Rabu, 08 Desember 2010

Sejarah Kebun Binatang Bukittinggi, Sumatera Barat

klik untuk melihat foto
Kebun binatang Bukittinggi


Kota Bukittinggi merupakan bagian wilayah dari Provinsi Sumatera  Barat. Daerah tingkat II ini berjarak lebih kurang 100 kilometer dari kota Padang, yang merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Perjalanan dari Padang ke kota Bukittinggi menghabiskan waktu tempuh 2 hingga 4 jam dengan kendaraan bermotor. 

Kota Bukittinggi memiliki sebuah kebun binatang yang keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah kota ini. Kebun Binatang Bukittinggi tak sesederhana sekadar sebuah tempat yang diperuntukkan bagi pemeliharaan berbagai satwa, yang dijadikan objek pariwisata. Kebun binatang tertua kedua di Indonesia ini menyimpan berbagai catatan sejarah yang sangat menarik ditelisik.

Sejarah Berdirinya Kebun Binatang Bukittinggi

Sebagaimana wilayah-wilayah lain di tanah air, wilayah Sumatera Barat dan kota Bukittinggi pun mengalami masa panjang penjajahan Belanda. Di kota Bukittinggi, terdapat sebuah bukit bernama Bukit Malambuang. Posisi bukit ini bersebelahan dengan Bukit Jirek dan Bukit Kubangan Kabau (sekarang dikenal sebagai Pasar Atas). Panorama Bukti Malambuang amat memikat. Dari atas bukit ini, orang-orang dapat menikmati keindahan yang sempurna, perpaduan antara sejumlah gunung dan ngarai, yaitu Gunung Singgalang, Gunung Sago, Gunung Merapi, Gunung Pasaman, dan Ngarai Sianok.

22 Objek Wisata Sumatera Barat

Sedemikian elok keindahan yang dapat dinikmati dari bukit ini, hingga seorang pejabat Belanda pun jatuh hati. Dialah  Gravenzanden, seorang Controleur Belanda di Bukittinggi. Atas prakarsa sang pejabat ini, bukit Malambuang pun dibangun menjadi kebun bunga (strom park). Pengembangan kawasan Bukit malambuang menjadi kebun bunga ini terjadi pada tahun 1900. Kebun bunga dengan ragam flora ini menciptakan keindahan tak terkira. Kebun bunga ini pun dijadikan tempat bersantai dan melepas lelah pada sore hari oleh para pejabat dan pengusaha Belanda.

Pada tahun 1929, kebun bunga ini dikembangkan menjadi sebuah areal kebun binatang yang diberi nama Fort De Kocksche Dieren Park (Kebun Binatang Bukittinggi). Maka, dimulailah pembangunan kandang-kandang untuk hewan yang akan menghuni kebun binatang ini. Juga pengisian koleksi berbagai jenis satwa. 

Berkat pengelolaan yang sangat serius oleh pemerintah kolonial Belanda, Kebun Binatang Bukittinggi terus berkembang dan mencapai masa kejayaan pada tahun 1933. Pada tahun ini, kebun Binatang Bukittinggi mampu memberikan sekitar 150 ekor binatang khas Pulau Sumatera pada Kebun Binatang Surabaya. Sebaliknya, Kebun Binatang Bukittinggi menerima dari Kebun Binatang Surabaya sejumlah binatang khas Indonesia Timur.

Pada tahun 1935, di Kebun Binatang Bukittinggi dibangun Rumah Adat Baanjuang. Rumah gadang bergonjong gajah maharam ini mempunyai 9 ruang dan anjungan di bagian kanan dan kiri. Di dinding-dinding rumah adat ini terdapat ukiran yang mencerminkan ketinggian budaya ranah Minang. Rumah Adat Baanjuang difungsikan sebagai museum tempat memajang benda-benda budaya dan sejarah, seperti pakaian adat Minang dan perhiasan. 

Kebun Binatang Bukittinggi juga dilengkapi Museum Zoologi dan aquarium ikan hias. Di area kebun binatang ini dibangun pula tempat yang digunakan untuk mementaskan pagelaran berbagai jenis kesenian tradisional Minangkabau. Tempat pagelaran kesenian ini dinamakan Medan Nan Bapaneh. Yang tak kalah menarik adalah keberadaan Jembatan Limpapeh di kawasan Kebun Binatang Bukit Tinggi. Jembatan ini menghubungkan Kebun Binatang Bukittinggi dengan Benteng Fort De Kock yang terdapat di Bukit Jirek.

Masa Kemunduran Kebun Binatang Bukittinggi

Sayangnya, Kebun Binatang Bukittinggi yang sedemikian apik dan lengkap  dengan berbagai bangunan serta sarana pendukung, mengalami kemunduran pada masa pendudukan Jepang di Nusantara. Situasi peperangan membuat kebun binatang ini menjadi tidak terurus. 

Jepang tampaknya tidak menghargai kebun binatang yang telah dibangun dan dikelola dengan begitu sungguh-sungguh ini. Mereka membuat berbagai kerusakan di kawasan kebun binatang ini. Jepang membuat terowongan-terowongan di sekitar kebun binatang dan merusak saluran air demi kepentingan tentaranya. 

Bahkan, Jepang juga melakukan kekejian dengan menembaki dan membunuh satwa-satwa di Kebun Binatang Bukittinggi menggunakan bayonet. Betapa mengenaskan kondisi kebun binatang yang pernah dipuji sebagai kebun binatang terbaik dan terindah di Hindia Belanda ini. Tak ada pengurus, banyak binatang yang mati, dan banyak kandang yang kosong tanpa penghuni.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Kini, Kebun Binatang Bukittinggi dikenal dengan nama Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Sebuah taman margasatwa yang telah mengalami berbagai perubahan, mencapai puncak kejayaan, lantas surut pada kondisi memprihatinkan. 

Perjalanan panjang taman margasatwa ini tak urung menjadikannya sebagai warisan sejarah yang amat berharga bagi segenap anak bangsa ini. Oleh karena itu, menjaga keberadaannya agar tetap lestari adalah kewajiban mulia yang tersandang di pundak setiap anak negeri ini.

Tidak ada komentar: