Jumat, 29 Oktober 2010

Perfecto, Lazio

Setidaknya, dalam satu dasawarsa ini, Lazio sudah menjadi tim semenjana. Bahkan di musim lalu, mereka nyaris berada pada titik nadir di Serie A Italia. Betapa tidak, mereka ketika itu nyaris terdemosi alias turun kasta ke Serie B. Beruntung, tim berjuluk The Aquile ini di pekan-pekan terakhir mampu perlahan menanjak dari keterpurukan hingga menempati posisi 12. Perlu dicatat, menempati urutan tersebut, sekurangnya bukanlah hal yang realistis bila langsung menatap tinggi untuk capaian di musim berikutnya. Namun pada kenyataannya, Lazio terkini bisa dikatakan fantastis. Mereka sukses memegang kendali klasifika Serie A hingga memasuki giornata delapan dengan bertengger di puncak klasemen. Siapa yang menyangka tim Elang ini tampak mendominasi? Laga demi laga mereka lalui dengan hasil yang konsisten. Tak pelak tim-tim yang sejatinya sudah menjadi penguasa Serie A harus rela untuk sementara menepuk dada melihat Lazio yang senyumnya kian melebar.


Hegemoni para raksasa Serie A seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus dan AS Roma bak menyumput "pelan-pelan" di musim sekarang. AC Milan, bisa jadi mereka bakal menjadi penantang serius Lazio dalam bersaing merebut puncak klasemen bila menilik pada hasil positif yang dituai tim arahan Max Allegri ini. Milan berada satu tingkat di bawah Lazio tertinggal dua angka dengan Lazio mengemas 19 poin. Lalu kemanakah Inter? Jawara Serie A Italia itu seperti sedang tiarap. Hasil inkonsisten yang didapat Nerazzurri hingga minggu ini menempatkan mereka harus berbesar hati parkir di urutan ketiga. Mungkin faktor aklamatisasi pelatih baru mereka, Rafael Benitez, masih berlanjut sehingga belum menemukan sentuhan terbaiknya seperti ketika dipoles Jose Mourinho. Bahkan Inter sudah terpaut empat poin dari Lazio. Tak ubahnya Juventus. Tim asal Turin ini juga masih terus mencari-cari stabilisasi performa. Mereka pun terbilang kerap bermain angin-anginan. Tak ayal saat ini Bianconerri masih duduk di tempat kelima. Lalu apa kabar AS Roma? Tim satu kota Lazio ini justru yang paling merana. Dari delapan laga domestik berlalu, mereka cuma menang dua kali yang membuat Giallorossi terdampar di peringkat 14. Belum lagi polemik internal yang mana sang pelatih Claudio Ranieri santer dikambinghitamkan atas melorotnya kinerja Roma musim ini.

Memang berbicara mengenai Scudetto rasanya masih terlalu jauh. Kompetisi pun terbilang masih seumur jagung. Perjalanan masih sangatlah panjang. Paruh musim saja belum tuntas. Revisi dari skala besar-besaran hingga yang paling kerdil masih bisa digalakkan. Gerbang menuju Scudetto masih terbuka bagi siapapun, bahkan di luar tim-tim yang disebut di atas. Lantas, apa rahasia yang menyebabkan Lazio begitu ciamik di awal musim ini sampai banyak kalangan yang menilai mereka akan mampu berbicara banyak di Serie A?

Pada bursa transfer musim panas kemarin, ada dua nama yang didatangkan Lazio dan cukup menyita perhatian media. Dua pemain tersebut adalah, playmaker Hernanes, dan striker Sergio Floccari. Khusus untuk Hernanes. Eks bintang Sao Paulo tersebut sebelum didaratkan Lazio dari Brasil sudah menjadi incaran sejumlah klub-klub besar. Sebut saja Milan, Juve dan Barcelona adalah peminat serius Hernanes. Namun pada akhirnya Lazio lah yang berhasil membuat kesepakatan dengannya. Akuisisi Hernanes sendiri tak lepas dari hasrat sang playmaker yang beranimo merumput di Serie A Italia dan tak tergiur dengan bayaran tinggi. Padahal ketika itu, tiga klub top Eropa itu siap membayar Hernanes menjanjikan. Tapi Hernanes ingin membuktikan bagi Lazio. Dan hasilnya, ia pun kini menjadi idola klub yang bermarkas di Olimpico itu karena kontribusinya yang cukup signifikan bagi tim. Sementara Floccari, pemain yang direkrut dari Atalanta ini juga menjadi pembelian manis pada musim ini. Dirinya tak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan tim, seketika ia sudah mampu menyetel dengan pemain lain. Buktinya bisa dilihat dari torehan gol yang ia bukukan. Floccari menjadi top skor Lazio sampai saat ini dengan tiga gol dari delapan laga.


Di samping itu, jangan lupakan juga sentuhan dingin pelatih Edoardo Reja serta dukungan penuh fans yang selalu sabar dan setia memberikan dorongan moril kepada tim walau tengah dilanda paceklik. Manajemen tak pernah mendesak sang pelatih untuk berupaya memberikan hasil mengkilap bagi Lazio, namun mereka malah terus memberikan support agar Reja tetap melakukan tugasnya semaksimal mungkin dan tentu saja dengan bantuan dari fans. Praktis waktu yang diberikan bagi Reja dimanfaatkannya secara tepat dengan melakukan perombakan perlahan tapi pasti.

Faktor lain yang membuat Lazio masih terlihat gagah adalah Lawan-lawan yang mereka hadapi sejatinya belumlah menyentuh lawan yang tergolong berat. Bologna, Fiorentina, Chievo, Brescia, Bari dan Cagliari telah mereka tumbangkan dengan meyakinkan. Hanya ada dua tim berat yang sudah mereka ladeni, yakni Milan dan Sampdoria. Bila The Biancocelesti mampu menahan Rossoneri 1-1, namun dengan Sampdoria mereka takluk 2-0. Dua klub terakhir disebut barusan bisa menjadi indikator Lazio ke depannya bakal segemilang apa. Masih ada Inter, Roma dan Juventus bahkan Palermo yang kemungkinan siap menyandung mereka.


Pihak-pihak dalam Lazio sendiri berusaha bersikap bersahaja dengan menegaskan tak mau terlalu percaya diri dan yakin akan kapabilitas tim mampu merebut Scudetto musim ini dari genggaman Inter. Suara-suara rasional sudah mulai dikumandangkan. Bek mereka, Giuseppe Biava, pun telah menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan memenangkan gelar domestik season ini. Sang bek tak mau muluk. Ia lebih memilih untuk memikirkan Lazio bertahan di Serie A adalah hal yang sudah cukup patut disyukuri. "Kami haruslah realistis dan menyadari, scudetto masih cukup jauh untuk bisa kami raih. Kami harus bergerak perlahan sesuai dengan tujuan yang kami canangkan, yakni bukan Scudetto, melainkan tetap bertahan di kompetisi ini, dan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya, itulah yang lebih penting," demikian Biava. Baru-baru ini juga mantan presiden Lazio Sergio Cragnotti -- orang nomor satu yang pernah membawa Lazio berjaya -- turut melempar opininya dengan nada serupa tapi sedikit lebih optimistis. "Saya melihat para pemain bisa melakukan yang terbaik. Tapi Scudetto? Jangan berlebihan, namun tiket ke Liga Champions lah yang berada dalam jangkauan," tegasnya.

Lazio memang sudah dua kali mengecap kesuksesan besar di Italia. Tahta Scudetto pernah menghiasi lemari klub di tahun 1973/1974 dan yang masih lekat diingatan ketika musim 1999/2000. Untuk kesuksesan pada 11 tahun silam tersebut, Lazio ketika itu berada dalam kuasa Cragnotti, dengan pemain bintang dunia sekaliber Marcelo Salas, Alessandro Nesta, Juan Sabastian Veron. Tapi setelahnya, mereka menurun bahkan dahaga gelar, sampai-sampai sempat beberapa kali nyaris terjun bebas tersesat di zona degradasi. Meski demikian, paling tidak menjaga keselarasan performa adalah kunci menuju kesuksesan musim ini. Tak ada yang mustahil dalam sepakbola. Unsur kemisteriusan kerap ditemukan dalam sepakbola. Tak ada yang tahu bakal seperti apa sebuah tim di masa yang akan datang. Mungkin saja ini adalah era reinkarnasi Lazio. Siklus musim 1999/2000 mungkin saja berputar dalam kampanye tim di musim sekarang. Bintang-bintang seperti Hernanes dan Floccari dapat menjadi inspirator tim sama halnya ketika mereka masih memiliki Veron dan Salas. Jadi bukan tanpa alasan Lazio tak bisa kembali mendulang kedigdayaannya. Sejauh ini, sulit rasanya menyangkal keperkasaan mereka. Dan tak berlebihan bila sementara mereka disebut 'perfecto Lazio'.  

Tidak ada komentar: